Search

Bagas dan Bagus: Motivasi kami masuk piala dunia

Yuni Puji Istiono tertawa mendengar pertanyaan: bagaimana Anda menemukan perbedaan antara Bagas dan Bagus? Ia menjawab, “mudah, karena saya adalah Bapak mereka he-he”. Tapi, ketika Yuni nonton di stadion, dirinya kadang sulit juga membedakan. “Ndak mudah, sama-sama gesit."

Bagas dan Bagus benar-benar sulit dibedakan. Mulai dari tinggi badan, model rambut dan senyuman, hampir semua sama. Mereka memang kembar identik. Hanya saja Bagas punya codet di pelipis mata kiri—akibat terbentur rekan sendiri di final Piala AFF U-16. Nah, codet itu jadi pembeda.

Sebelum Bagas bercodet, bukan perkara mudah membedakannya. Bahkan pelatih Fachry Husaini dibuat sakit kepala oleh si kembar. Posisi keduanya pun tak sengaja tertukar. Bagas, yang merupakan striker, dijadikan pemain bertahan. Sedangkan Bagus, dari posisi bertahan, justru mengisi lini serang. Salah posisi ini keterusan hingga sekarang.

“Di posisi mana saja ndak masalah, kita enjoy kok,” ujar si kembar saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di kediamannya Dusun Sindas, Secang, Magelang, Kamis (16/8/2018).

Pagi itu keduanya baru bangun, mata masih bengkak dan banyak menguap. Mereka tidur larut karena menjamu tamu yang datang tanpa henti. Tamu-tamu itu memberi selamat, berbincang atau sekadar foto bersama. "Capek sih, tapi senang," kata Bagus.

Usai membawa Timnas menyabet Piala AFF U-16, si kembar memang bak pahlawan di tanah Magelang. Mereka diarak keliling kota, dibuatkan tumpeng, pengajian, dangdutan, ditemui pejabat, disiram bonus. Padat.

Keduanya mulai main bola sejak usia lima di halaman rumah. Mereka dikenal gesit dan sering menyiksa anak-anak lain dengan gocekan. Tak satu pun dari mereka memulai karier sebagai pemain belakang. Keduanya lihai di lini serang. Hal itu berlaku di sekolah bola Naga Paksa, Putra Harapan hingga klub terakhir mereka: Chelsea Soccer School Indonesia.

Jujur, Anda akan gampang terpikat dengan si kembar. Selain karena bakat, mereka begitu polos menceritakan kenakalannya. Antara lain melempar petasan ke halaman masjid—sehingga keduanya dikejar-kejar warga satu dusun. “Sumpah, itu ndak sengaja, Bapak juga ndak tahu,” kata Bagas.

Sisi lainnya, kedua bocah ini cukup bijak mengkreditkan orang tua untuk kesuksesan mereka. Termasuk memberikan uang-uang yang didapat untuk Sang Ayah. Berikut wawancara dengan mereka soal telepati anak kembar, candu Point Blank, hingga hobi motor trail selama satu jam:

Bagas Kaffa Arrizqi dan Bagus Kahfi Alfikri di kediamannya Dusun Sindas, Secang, Magelang, Kamis (16/8/2018)

Bagas Kaffa Arrizqi dan Bagus Kahfi Alfikri di kediamannya Dusun Sindas, Secang, Magelang, Kamis (16/8/2018) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Ada yang berubah dari hidup kalian setelah terkenal?
Bagus: Kadang ndak nyaman sih diperhatikan orang. Memang popularitas ndak bisa dihindari ya. Saya sadar. Nikmati dan syukuri saja he-he.

Bagas: Mending main bola terus saja, tapi ndak terkenal. Lebih enak di lapangan.

Kehidupan jadi terganggu ya?
Bagas: Sudah risiko. Kalau saya sih ndak apa-apa. Tapi pacar kadang bete melihat saya foto dengan fan ha-ha. Ya ndak apa-apa, ini pembelajaran. Pacar aku orang Jakarta. Kita baru enam bulan.

Merasa enggak nyaman dengan popularitas yang kalian dapatkan?
Bagus: Nyaman-nyaman saja. Yang mendukung kita kan banyak. Orang tua, masyarakat Magelang dan Indonesia. Kita menghargainya. Dukungan juga ada dari Pak Bupati dan Pak Gubernur.

Ngomong-ngomong buat apa uang pembinaan dari Bupati Magelang sebesar Rp15 juta itu?
Bagas: Buat apa saya bingung, belum komunikasi sama Bapak. Kayaknya saya kasih saja ke Bapak. Saya takut pegang uang banyak. Boros soalnya. Tapi kalau uang pribadi saya sendiri yang pegang. Misalnya yang dari PSSI.

Kalau hadiah jadi top skor Piala AFF U-16 kemarin itu dapat apa Gus, sepatu emas?
Bagus: Enggak tahu ha-ha. Dapat bola kayaknya. Sepatu emas juga belum (dapat), tapi di AFF (The ASEAN Football Federation) sudah tercatat nama saya (sebagai top skor).

Berapa sih besar gaji pemain Timnas U-16 itu per bulan?
Bagas:
Bukan per bulan. Pokoknya sehari Rp100 ribu. Disebutnya uang saku. Kalau gaji sih enggak ada. Tapi saya diajari Bapak enggak usah perhitungan kalau main untuk Indonesia. Karena yang penting itu prestasinya, bukan terkenalnya. Jangan sampai star syndrome.

Banyak pemain muda itu star syndrome karena merasa terkenal ya, malah ada yang tersangkut kasus kriminal…
Bagus: Makanya harus hati-hati. Jangan terbuai pujian. Semua ini belum apa-apa. Harus tetap kerja keras. Niat kita kan main bola, bukan yang lain.

Memang sejak kecil ya kalian suka sepak bola?
Bagus: Malah enggak. Pas TK justru kita mainnya itu motor trail, hampir tiap pagi. Kita dilatih motor oleh Bapak.

Bagas: Makanya tetangga mengira kita mau jadi pembalap. Sebagai kakak, hobi saya diikutin terus sama Bagus. Pas saya main bola, ya Bagus juga. Depan rumah dulu ada lapangan tanah. Main deh di situ, gocek-gocek.

"Saya enjoy-enjoy saja, meski harus bekerja keras lagi dengan posisi baru itu. Tapi saya menikmatinya"

Bagas Kaffa Arrizqi

Siapa yang memperkenalkan sepak bola kepada kalian?
Bagus: Ada namanya Mas Toro, orang yang sudah ikut Bapak dari kecil. Mas Toro yang ajarin kita. Lalu kita diajak teman masuk SSB. Namanya Naga Paksa, kemudian masuk Putra Mandiri dan Putra Harapan.

Bagas: Awalnya Bapak enggak terlalu mendukung. Iya-iya saja pas kita masuk SSB. Tapi sekarang alhamdulillah, Bapak mendukung banget.

Sebenarnya kalian menyangka enggak akan berada pada titik ini?
Bagas: Enggak, apalagi saya bandel dulunya. Enggak nurut sama Bapak. Saya sering main dan enggak pulang ke rumah. Main game Point Blank (PB) di warnet. Kayak kecanduan, sampai begadang. Tapi itu masa lalu.

Tingkat kenakalan kalian ini masih wajar atau he-he
Bagas: Ndak tahu ya he-he. Saya sama teman-teman kampung ya biasa main saja pokoknya. Ke mana-mana bawa petasan pas puasa. Itu enggak bisa dilupain. Suatu kali teman saya bawa korek dalam keadaan nyala dan saya bawa petasan besar—lalu tersulut enggak sengaja ketika kami berdekatan. Kaget.

Lalu saya asal saja lempar petasan itu, masalahnya terlempar ke halaman masjid yang lagi pada tarawih. Petasan itu meledak dan gila situasinya. Kita ini, termasuk Bagus, lari-lari dikejar warga. Saya ke sawah, Bagus ke warnet dan pingsan. Cerita ini Bapak enggak pernah tahu he-he. Sumpah itu ndak sengaja. Saya takut sekali.

Dapat sanksi dari warga enggak karena kedapatan memainkan petasan di masjid itu?
Bagas: Ndak sih. Tapi pas paginya saya ditegur orang tua teman. Saya diceramahi, kenapa bikin onar dan membuat orang jantungan.

Bagas Kaffa Arrizqi dan Bagus Kahfi Alfikri di kediamannya Dusun Sindas, Secang, Magelang, Kamis (16/8/2018)

Bagas Kaffa Arrizqi dan Bagus Kahfi Alfikri di kediamannya Dusun Sindas, Secang, Magelang, Kamis (16/8/2018) | Wisnu Agung

Kalian dihadapi pilihan yang sulit enggak sih antara fokus sekolah atau fokus jadi pemain bola?
Bagas: Kita ini sebenarnya belum lulus dari MTSN Kota Magelang. Karena waktu itu lama di Frenz United Malaysia. Di sana setengah tahun. Jadi lumayan ketinggalan (pelajaran).

Bagus: Tapi di sana kita banyak belajar banyak banget. Kita kadang sedih, kadang senang, kangen pulang, sehingga mental terasah.

Apakah di sekolah itu pengajarannya menyenangkan?
Bagas: Biasa saja. Bagaimana ya. Kalau masuk kelas kadang bosan. Saya nemu pelajaran yang enggak nyambung, yaitu ekonomi ha-ha-ha. Gila, berat banget dan saya pikir sepak bola adalah pelarian yang membuat senang.

Kalau di TC (Training Camp) Timnas memangnya enggak capai atau bosan?
Bagus: Karena senang ya enggak bosan. Di sana dilatih disiplin. Handphone saja sehari cuma pegang dua jam. Dibatasi. Jam sembilan malam masuk kamar semua. Pelatih berjaga terus, sehingga enggak bisa main-main ha-ha.

Bagas: Seperti dalam penjara sih TC, tapi bagus buat kita. Kita ini enggak boleh satu kamar. Ini melatih mental jadi kuat. Ya setiap pemain punya motivasi sendiri-sendiri di Timnas ini. Kalau kita motivasinya adalah main di piala dunia U-17. Para pelatih juga kerja keras untuk membawa kita ke sana.

Bagaimana sosok pelatih Fachry Husaini di ruang ganti saat final Piala AFF itu?
Bagus: Dia memberi semangat kepada kita. Tegang sekali ketika itu dan ada beban mengobati kekecewaan publik setelah U-19 kalah. Coach Fachry bilang kita harus habis-habisan di setiap lini.

Bagas: Coach juga bilang, kalau tidak sekarang kapan lagi. Waktu itu sudah partai puncak dan kita diminta berikan yang terbaik untuk penonton.

Gara-gara coach Fachry salah nama, kalian jadi bertukar posisi ya di lapangan, sudah enjoy dengan posisi itu?
Bagas: Saya enjoy-enjoy saja, meski harus bekerja keras lagi dengan posisi baru. Tapi saya menikmati posisi itu sampai sekarang.

Kesulitan membedakan itu juga terjadi di keseharian kalian ya?
Bagas: Jika baru kenal, pasti sulit bedain. Malahan ya, ID card turnamen itu sering banget fotonya wajah saya, tapi nama di kartunya itu Bagus. Termasuk Piala AFF kemarin. Bagus itu pakai foto saya. Ya disyukuri saja, seru ngeliat orang-orang kebingungan. Kadang kami biarkan saja sebagai bahan candaan ha-ha.

Banyak yang bilang Timnas U-16 itu solid dan bermain dengan chemistry…
Bagus: Saya tahu apa yang Bagas mau, sebaliknya juga begitu. Karena kembar kali ya. Dengan tim, kita ini kenal sejak lama. Di Malaysia kita bertemu dengan Hamsa Lestaluhu. Lalu sejak kecil kami sudah kenal dengan Komang Teguh, Supriyadi dan Nando. Kita bertemu di turnamen-turnamen yang kita ikuti. Ini memudahkan beradaptasi.

Bagas: Tim ini lewati bersama prosesnya. Makan bareng nasi hitam siang malam, nyanyi-nyanyi lagu Kopassus sebelum tanding, termasuk salat jemaah sebelum bertanding.

Kalau tidak jadi pemain bola, kalian akan jadi apa kira-kira?
Bagus: Pengusaha tahu pong.

Bagas: Makelar mobil seperti Bapak ha-ha.

Let's block ads! (Why?)

https://beritagar.id/artikel/bincang/bagas-dan-bagus-motivasi-kami-masuk-piala-dunia

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Bagas dan Bagus: Motivasi kami masuk piala dunia"

Post a Comment

Powered by Blogger.