Search

Alasan Pemerintah Patok Rupiah 15.000 per Dolar AS di APBN 2019

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat Nilai tukar Rupiah (NTR) masih melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).

Namun menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, depresiasi rupiah tersebut masih dalam volatilitas yang terjaga.

"Tekanan depresiasi rupiah pada September 2018 dan kemudian berlanjut pada Oktober 2018 sejalan dengan pergerakan mata uang negara," kata Mirza di Gedung BI, Jakarta, Selasa 23 Oktober 2018.

BI mencatat rupiah secara rata-rata melemah sebesar 2,07 persen hingga September 2018.  Angka ini sedikit melemah pada Oktober 2018.

"Dengan perkembangan ini, maka secara year to date (ytd) sampai dengan 22 Oktober 2018, rupiah terdepresiasi 10,65 persen," ujar dia.

Depresiasi Rupiah, masih lebih rendah dari pelemahan yang terjadi di Brasil, India, Afrika Selatan, dan Turki.

Ke depan, Bank Indonesia terus mengambil langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamental. Ini dengan tetap menjaga berjalannya mekanisme pasar, didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan.

"Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga volatilitas rupiah serta kecukupan likuiditas di pasar sehingga tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," dia menandaskan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Nilai tukar rupiah melemah, warga antre tukar dolar Amerika Serikat milik mereka di tempat penukaran valuta asing di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Let's block ads! (Why?)

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3681457/alasan-pemerintah-patok-rupiah-15000-per-dolar-as-di-apbn-2019

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Alasan Pemerintah Patok Rupiah 15.000 per Dolar AS di APBN 2019"

Post a Comment

Powered by Blogger.