Pertumbuhan ekonomi yang melambat, perang dagang global, inflasi yang stabil, serta meningkatnya ketegangan geopolitik bisa menjadi alasan bank sentral untuk memperlambat atau bahkan menghentikan sementara laju pengetatan kebijakan moneternya. Para central banker dapat mengambil langkah wait and see hingga gambaran perekonomian global menjadi lebih jelas, dilansir dari AFP, Minggu (16/12/2018).
Sejak Oktober, Wall Street telah bergerak liar antara melonjak tajam hingga karam menyusul berbagai pernyataan publik Gubernur The Fed Jerome Powell dan pejabat bank sentral lainnya yang memberi sinyal antara kelanjutan kenaikan bunga acuan hingga penghentian sementara.
Dalam beberapa hari terakhir, para ekonom telah mulai memangkas proyeksi jumlah kenaikan suku bunga AS tahun depan menjadi hanya satu atau dua hari sebelumnya empat kali.
Para pejabat The Fed di September memperkirakan akan ada tiga kali kenaikan bunga acuan namun menyatakan angka itu dapat direvisi dalam pertemuan yang akan berlangsung Rabu pekan depan.
Para ekonom mengatakan The Fed memantau ketat perlambatan pertumbuhan di China dan Eropa, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau Brexit yang berubah kacau-balau, krisis politik di Prancis, serta masalah anggaran Italia.
![]() |
Di AS sendiri, efek stimulus fiskal berupa pemotongan pajak oleh Presiden Donald Trump diperkirakan mulai pudar tahun depan. Ekonomi terbesar di dunia itu juga diprediksi akan tumbuh lebih lambat di 2019.
"Saya berpendapat serupa bahwa semua ini tidak sekuat kelihatannya beberapa bulan lalu namun kita belum tahu apa-apa dengan pasti," kata mantan wakil gubernur The Fed, Alice Rivlin, kepada AFP.
"Saya rasa mereka sedang berkata, 'Kami akan sangat hati-hati dan kami akan melakukannya berdasarkan apa yang kami lihat.'"
Hingga Jumat pekan lalu, pasar futures memperlihatkan kemungkinan kenaikan bunga acuan pekan depan mencapai 81,8%, cukup tinggi namun lebih rendah dibandingkan prediksi pada kenaikan suku bunga beberapa pertemuan sebelumnya di tahun ini.
Bursa saham AS anjlok di awal Oktober saat Powell mengatakan bunga acuan masih jauh dari netral yang mengindikasikan akan ada lebih banyak lagi kenaikan suku bunga.
![]() |
Sinyal lainnya bahwa laju kenaikan suku bunga akan semakin lambat mungkin telah muncul.
Di tengah aksi jual di pasar saham, Wall Street Journal melaporkan pada 7 Desember lalu bahwa The Fed sedang mempertimbangkan untuk mengambil pendekatan wait and see. Kabar ini meredakan kekhawatiran investor.
Pejabat The Fed lainnya telah menyuarakan kehati-hatian, termasuk Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan yang mengatakan bank sentral harus sangat bersabar dalam menaikkan bunga.
Ekonom Grant Thornton, Diane Swonk, mengatakan The Fed akan menyerukan arah kebijakan yang lebih fleksibel.
"Kami telah menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga kami menjadi dua kali tahun depan," tulisnya dalam sebuah catatan riset. Ia menambahkan keputusan bank sentral akan dibuat berdasarkan data ekonomi terbaru.
(prm) https://www.cnbcindonesia.com/market/20181216123922-17-46604/tenang-the-fed-tak-akan-agresif-lagi-di-2019Bagikan Berita Ini
0 Response to "Internasional Tenang, The Fed tak Akan Agresif Lagi di 2019 Market - CNBC Indonesia"
Post a Comment