Search

LOLOHIN MALU Leluhur Kita Pencipta Spot Selfie Paling Kreatif Oleh - Jawa Pos

Kawasan lereng dan puncak perbukitan Lempuyang dengan sejumlah bangunan di sisi tebing bersemak, di tepi lembah yang curam, dan di antara pepohonan tropis yang menyegarkan, adalah spot selfie terbaik yang pernah dirancang leluhur orang Bali. Lihatlah di media sosial, semacam FB atau IG, banyak tersebar foto seseorang sedang selfie di sela-sela gapura, di ketinggian sebuah lereng, pada jeda-jeda awal menuju Puncak Lempuyang.

Foto itu memang selalu tampak mantap, meski foto-foto sejenis berkali-kali diunggah nitizen di media sosial. Apalagi di sela-sela kosong gapura tampak latar megah Gunung Agung dengan puncak yang kadang menyemburkan awan mistis. Seakan puncak gunung itulah diapit gapura dengan arsitektur dan ukiran yang mungkin tiada dua. Lebih indah lagi, di latar bagian atas, langit begitu cerah dan awan putih berarak. Jika imajinasi ditajamkan, gapura dan orang dalam foto seolah berdiri di atas tanah yang mengambang, di langit tinggi, di antara awan-awan.

Bisakah dibayangkan lokasi itu? Bisakah dibayangkan spot selfie yang dibangun manusia-manusia luhur pada masa lalu itu? Jika tidak, berarti Anda mengidap penyakit cuek keterlaluan. Cobalah piknik spiritual ke Lempuyang, lalu fotoan dengan berbagai gaya, rasakan sendiri sensasinya. Sekali lagi, biar fotonya terasa lebih gurih dan nyangluh, jangan lupa sembahyang. Masa sih ke situ hanya fotoan?  

Setelah itu, mari akui, betapa sakti para leluhur kita membangun spot selfie di masa lalu. Tak mau mengakui? Lihat Pura Tanah Lot dan Uluwatu.  Bukankah pura di tempat sulit yang dibangun leluhur kita itu kini jadi spot selfie teramai sepanjang masa? Atau lihat Jatiluwih. Di situ, dulu, leluhur kita membangun sawah berundak-undak, pematang meliuk-liuk, dan  parit berliku-liku, hingga menciptakan keindahan tiada tara. Harus diakui, itu adalah spot selfie yang dibuat oleh para petani di masa lalu dengan amat-amat kreatif, mungkin kreativitasnya melebihi kegilaan seorang seniman.

Ah, pujian itu berlebihan. Mungkin akan ada yang bentak saya, “Eh, Brother, orang-orang tua kita dulu itu tidak bertujuan membuat spot selfie. Mereka membangun Pura, mereka memciptakan sawah untuk ditanami padi, membangun irigasi agar air bisa terbagi-bagi dengan adil. Jangan tuduh mereka bikin spot selfie, itu namanya meremehkan! Apalagi dulu tak ada kamera, tak ada HP, tak ada pariwisata, mana mungkin mereka membuat spot selfie. Ini pemikiran sesat!”

Jika saya dibentak sekeras itu, pastilah saya langsung minta ampun. Karena benarlah pikiran saya sesat. Leluhur kita tak membangun spot selfie. Sakti mandraguna mereka jika sengaja bikin spot selfie, padahal kata selfie dan bentuk kamera pun belum terpikirkan sama sekali oleh orang paling-orang pintar di zaman itu. Tapi, jangan salah, karena itulah mereka disebut leluhur – manusia-manusia luhur yang mewariskan Pura indah yang sangat alami di puncak bukit, meninggalkan Pura eksotik dan megah di tengah laut, dan menghibahkan sawah berundak-undak lengkap dengan sistem pengairan di lingkar pegunungan, tapi kita, di zaman modern ini, menggunakannya untuk selfie.

Dengan pikiran sederhana, leluhur meninggalkan keindahan sejak bertahun-tahun sehingga mata kamera HP paling canggih di zaman kontemporer ini bisa menangkapnya dengan leluasa. Meski pada masa-masa itu, di mana kamera bahkan belum ada dalam mimpi, leluhur kita sesungguhnya memiliki mata kamera batin untuk menentukan sudut pandang, komposisi, frame, dan hal-hal lain yang dimiliki oleh kamera.

Misalnya, spot selfie di kawasan Lempuyang itu. Dengan pikiran sederhana kita bisa menduga, leluhur kita memang punya perhitungan seperti seorang fotografer ulung ketika menempatkan gapura sebagai pintu masuk sekaligus sebagai obyek yang asyik dipandang mata. Lokasi gapura seakan sengaja dipilih agar puncak Gunung Agung bisa tampak sebagai latar yang menyembul di antara gapura, dengan awan berarak di sekitarnya, dan tempat itu bisa terasa mengambang di angkasa.    

Dan, saya duga, mungkin spot selfie semacam di Lempuyang itulah yang dijadikan semacam model ketika pada zaman modern ini spot-spot selfie bertabur seperti jemuran diterbangkan angin ngelinus di banyak tempat. Sengajalah dipilih tempat yang sulit, misalnya spot ayunan dan kepompong ranting di tepi danau atau di tebing sungai yang curam. Tentu agar orang yang berselfie tampak melayang di udara, seakan sang pemberani yang sedang menantang ketinggian.

Di zaman modern ini, spot selfie dibuat dengan sengaja. Bahkan banyak spot selfie dibuat pada alam yang sesungguhnya sudah indah secara alami, seperti di tengah-tengah keindahan sawah berundak yang diwariskan leluhur kita. Bahkan di situ dipasang tulisan besar-besar hanya untuk memamerkan nama tempat, semacam tulisan HOLLYWOOD di kawasan pegunungan Santa Monica, LA.  

Orang akan berfoto di depan tulisan besar agar orang-orang tahu mereka sudah pernah berada di tempat itu, meski kadang mereka tak tahu dengan benar seperti apa sesungguhnya tempat itu. Seperti orang yang keranjingan berfoto di depan plang nama museum, tapi jangankan tahu isi museum, masuk museum saja tidak.

Sekarang coba tanya kepada orang yang selfie di sisi gapura di kawasan Lempuyang itu, yang suka membagikan fotonya di media sosial, apakah mereka tahu apa nama pura itu, siapa yang membangunnya, untuk apa dibangun, dan tahun berapa dibangun?

(bx/dik/yes/JPR)

Let's block ads! (Why?)

https://baliexpress.jawapos.com/read/2019/01/19/114598/leluhur-kita-pencipta-spot-selfie-paling-kreatif

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "LOLOHIN MALU Leluhur Kita Pencipta Spot Selfie Paling Kreatif Oleh - Jawa Pos"

Post a Comment

Powered by Blogger.