Search

Pentingnya Sistem Penilaian untuk Pendidikan yang Lebih Sehat - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pendidikan merupakan jalan utama bagi sebuah bangsa bisa lebih berkembang dan maju ke arah yang lebih baik. Tak heran, bila Indonesia sendiri setiap tahunnya menggelontorkan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk membiayai kebutuhan tersebut. Ujungnya tak lain adalah mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk dapat mengetahui sejauh mana tujuan itu tercapai, tentunya dibutuhkan sebuah penilaian. Mengingat pentingnya hal ini, pemerintah juga mengatur penilaian dalam perarturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 21 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Dalam deklarasinya, pemerintah menekankan bahwa penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Akan tetapi, kendati standar penilaian telah diatur penerapannya di lapangan masih belum sejalan dengan tujuan mulia dari pendidikan nasional.

Pendiri dan Pimpinan Highscope Indonesia Antarina SF Amir mencontohkan belum maksimalnya sistem penilaian yang ada di Indonesia, misalnya adalah penghitungan hasil akhir nilai siswa yang ditetapkan dari rata-rata nilai tengah semester dan akhir semester.

“Nilai 7 atau 8 para siswa kan tidak memberi gambaran menyeluruh terhadap pencapaian kompetensi, juga belum jelas hal apa yang perlu guru dan siswa perbaiki untuk ke depannya,” katanya belum lama ini.

Menurutnya, sistem penilaian yang hanya menggunakan angka tidak begitu efektif dalam menggambarkan proses perkembangan anak dalam belajar. Selain itu, sistem ini terkesan membuat murid menjadi kompetitif dengan pendidikan itu sendiri dan terpaku mengejar hasil akhir.

Padahal, lanjut Antarina, esensi pendidikan justru ada pada proses pembelajarannya itu sendiri untuk mengasah kemampuan dan keterampilan anak atau murid sehingga siap terjun ke masyarakat, “learning is journey,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, diperlukan sistem penilaian yang lebih komprehensif dan dapat menunjang murid dalam pembelajaran mereka sehari-hari di sekolah.

Pakar pendidikan di bidang penilaian asal Amerika Serikat, Thomas R Guskey, menyampaikan bahwa penilaian murid tidak harusnya dilakukan hanya berdasarkan proses memorisasi tetapi harus dilakukan secara menyeluruh.

Maksudnya, penilaian tersebut harus dilakukan secara seimbang, otentik, menggunakan beragam bukti belajar, dan harus berdasarkan kriteria pencapaian target belajar. Hal terakhir ini lah yang ditekankan oleh Gusky harus menjadi perhatian bagi institusi pemerintah dan pendidikan.

Dia menerangkan pencapaian target belajar yang sesungguhnya bukan sekadar lulus dengan nilai tertentu, tetapi list target dari berbagai kemampuan dan keterampilan dasar yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Misalnya pemikiran yang kritis, kemampuan komunikasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan memecahkan masalah sosial, kemampuan berkolaborasi, hingga meta refleksi,” ujarnya.

Dia mengatakan hal-hal tersebut yang seharusnya dikembangkan dalam rutinitas belajar sehari-hari. Konten pengetahuan seperti matematika, ilmu pengehatuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan yang lainnya hanya menjadi topik untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan itu.

Selanjutnya, penilaian yang dilakukan juga mengacu pada keterampilan tadi, lalu kemudian dapat dikolaborasikan dengan tingkat pengetahuan siswa terhadap pelajaran tertentu, “Penilaian harus mencakup hal yang menyeluruh, ada nilai akhir dan laporan progres,” katanya.

Guskey bahkan menyarankan agar insitusi pendidikan mengabaikan sistem penilaian dengan skala nilai 100 poin, yang umumnya di terapkan di berbagai sekolah di Indonesia dan bahkan dunia. Menurutnya, sistem tersebut merupakan yang paling sulit bagi siswa.

Bagaimana tidak, biasanya rata-rata nilai yang harus didapatkan siswa untuk dianggap lulus adalah diatas 70. Artinya, penilaian tidak lulus yang berkonotasi negatif memiliki persentase yang lebih tinggi bagi siswa, 70 banding 30.

“Itu akan membebani siswa dalam proses pembelajaran. Belum lagi sistem peringkat yang membuat adanya ‘perbedaan’ antara siswa satu dengan yang lainnya. Harusnya pendidikan itu mendorong seluruh siswa untuk bisa,” katanya.

Antarina juga menambahkan bahwa pada dasarnya siswa datang ke sekolah untuk belajar banyak hal, bukan hanya sekadar mengikuti tes ujian tertentu. Oleh sebab itu, penilaian yang berpangku pada angka bukan langkah yang tepat dalam dunia pendidikan.

Dia percaya bahwa sistem penilaian harus dirancang agar dapat menunjang kemampuan berpikir dan membentuk karakter siswa. Dia melanjutkan sistem pelaporan hasil belajar siswa juga harus menggambarkan progres dan pencapaian siswa secara holistik.

Ya, memang tak bisa dipungkiri bahwa sistem penilaian merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang pendidikan yang lebih sehat. Akan tetapi, Membangun ekosistem yang bersinergi dan lebih baik lagi juga merupakan hal yang sangat penting. Pada akhirnya, seluruh harapan adalah terwujudnya cita-cita pendidikan nasional itu sendiri. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pendidikan

Let's block ads! (Why?)

https://teknologi.bisnis.com/read/20190530/84/928385/pentingnya-sistem-penilaian-untuk-pendidikan-yang-lebih-sehat

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Pentingnya Sistem Penilaian untuk Pendidikan yang Lebih Sehat - Bisnis.com"

Post a Comment

Powered by Blogger.